Minggu, 09 Oktober 2011

KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA


LATAR BELAKANG

Menjelang berakhir 2011, perekonomian global kembali dihadapkan dengan situasi yang tidak menggembirakan, khususnya dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Kondisi perekonomian AS masih melemah dan tertekan oleh tingginya pengangguran. Kondisi ekonomi Eropa juga semakin mengkhawatirkan.

Pertumbuhan ekonomi dunia secara umum juga terlihat melemah, sebagaimana ditunjukkan oleh data-data Purchasing Manager Index (PMI) global.

Kondisi ekonomi global tersebut tentu tidak menguntungkan bagi Indonesia. Indikasinya sudah terlihat dari kinerja pasar keuangan kita.

Sejak Agustus lalu, IHSG mengalami pelemahan. Beruntung, kondisi fundamental makroekonomi dan mikro emiten kita cukup solid sehingga mampu menahan gejolak yang berlebih, sehingga koreksi yang terjadi relatif minimal.

ISI

Ekonomi dunia sekarang terlalu otomatis di mana setiap kemungkinan menghasilkan return baik sektor riil maupun nonriil berkompetisi. Akibatnya potensi kapital Lebih banyak terserap di sektor nonriil

Ternyata salah satu sifat ekonomi nonriil adalah tiap instrumen tidak independen satu dengan yang lainnya. Keruntuhan yang satu segera merembet pada yang lain atau bersifat sistemik. Industri ini sangat rawan terhadap shock psikologi Dan rumor.

Krisis yang diramalkan akan terjadi biasanya memberi koreksi pada sistem yang ada dan memungkinkan lahirnya ekonomi baru.

Indikasi ada kekhawatiran terkait dampak rentetan (contagion effect) krisis AS dan Eropa juga dapat dibaca dari kebijakan yang dikeluarkan pihak otoritas. Saat ini efek yang ditimbulkan akibat ketidakpastian perekonomian global memang masih terbatas. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2011 akan mencapai 6,6 persen.

Ekspor diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan perkiraan masih tingginya realisasi perdagangan dunia serta harga komoditas dunia. Namun, pengaruh penurunan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan mulai terasa pada kinerja ekspor kita, setidaknya pada kuartal IV-2011. Indikasinya sudah dapat terlihat dari penurunan harga komoditas (yang menjadi salah satu penyumbang utama ekspor nonmigas kita) yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini.

Kinerja Ekspor

Tahun2011 Nilai (Milyar US$) Persentase

Juni 14.82 / -14.82 4.28% / -14.28%

Januari-Juli 14.82 / -14.82 4.28% / -14.28%

Sebagai misal, tren harga CPO cenderung turun selama 2011. Bila pada periode Januari– Maret 2011 harga CPO berada di level USD1.251 per ton, selanjutnya turun menjadi USD1.147per ton (April–Juni 2011),dan pada Agustus lalu menjadi USD1.083 Per ton

Berdasarkan proyeksi Bank Dunia, harga CPO pada 2012 akan menurun berada di bawah USD1.000 per ton. Harga minyak mentah dunia juga cenderung turun, di mana harga minyak WTI kini berada di bawah USD90 per barel. Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan melambatnya volume perdagangan dunia, yang akhirnya akan memengaruhi perdagangan luar negeri (khususnya ekspor) Indonesia. Secara umum, pelemahan sektor perdagangan Indonesia ini akan mengganggu kinerja perekonomian Indonesia. Khusus pada 2011,dampaknya memang relatif rendah karena pertumbuhan ekonomi kita akan tertolong oleh kinerja sektor konsumsi: masyarakat dan pemerintah yang diperkirakan tinggi pada kuartal III dan IV-2011.

KESIMPULAN

Untuk mencegah dampak penurunan yang lebih dalam akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global, penguatan ekonomi domestik menjadi hal yang vital. langkah-langkah pengamanan melalui penguatan ekonomi domestik yang pernah ditempuh pada 2009 (sebagai antisipasi krisis global pada 2008), baik di bidang fiskal maupun moneter, tetap relevan untuk kembali diterapkan pada tahun 2012. Saat ini momentum yang tepat untuk melakukan berbagai penyesuaian atas kebijakan yang ada. RAPBN 2012 sedang dalam pembahasan sehingga terdapat ruang untuk melakukan penyesuaian misalnya kembali merancang insetif fiscal. BI juga masih memiliki ruang yang cukup dengan memanfaatkan instrumen suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian.

Termasuk pula, pembahasan undang-undang tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) juga harus dituntaskan agar kita miliki protokol yang jelas dalam penanganan krisis sistem keuangan. Jadi, jangan sampai kita kehilangan momentum. Perbankan perlu mencermati ekspansi di sektor yang terkena imbas krisis. Pengalaman krisis 2008, keselamatan kita dari krisis disebabkan tingkat integrasi ekonomi yang masih rendah. Hubungan ke negara-negara yang makin terdiversifikasi tentu saja sangat diperlukan, terutama negara dengan ekonomi yang relatif tradisional. Timur Tengah dan Afrika merupakan pasar yang perlu diolah.

SOLUSI

Menurut saya pribadi saat melihat kinerja dari perekonomian Indonesia sesungguh nya hal ini sudah pernah terjadi,seharusnya kita mampu membaca situasi ini dengan baik sehingga langkah kebijakan yang akan diambil akan tepat nanti nya..

Baik kebijakan secara fiscal maupun moneter sesungguuhnya harus berjalan beriringan,karna dalam mengatasi permasalahan ekonomi tidak hanya berfokus pada satu sisi saja,yang namanya perekonomian itu pasti akan menjalar pada berbagai sektor .

Indonesia sendiri sesungguhnya pernah mengambil langkah yang cukup berani dalam menepis terkenanya dampak krisis global,tidak ada salahnya jika kita jadikan tindakan yang terdahulu sebagai cerminan untuk kebijakan yg kita ambil saat ini.

Sumber :

(http://economy.okezone.com/read/2011/09/27/279/507417/krisis-global-dan-antisipasi-indonesia)

(http://economy.okezone.com/read/2011/09/29/279/508667/krisis-dan-risiko-perbankan)

(http://economy.okezone.com/statistik)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar